Assalamualaikum…

Xinnian kuaile, Gong xi fa cai dan wanshi ruyi to all my beloved friend

Memang udah telat sih buat  ngucapin Happy Chinese New Year, tapi berhubung ini masih suasana tahun baru imlek dan di kampus kita ini juga banyak orang tionghoanya gapapa kali ya. Kali ini saya mau menceritakan keseruan pesiar terpimpin praja IPDN Kampus Kalimantan Barat ke Kota Singkawang. tapi sebelum itu, saya mau menjelaskan tentang tahun baru imlek 2570. Tahun baru imlek tahun ini jatuh pada tanggal 5 Februari 2019. Menurut kalender Tionghoa, tahun baru imlek kali ini adalah tahun babi.

Seperti yang disebutkan di atas, pimpinan IPDN Kampus Kalimantan Barat memberi reward  pesiar terpimpin ke Kota Singkawang pada tanggal 15 dan 16 Februari 2019. Menurut Wikipedia, Kota Singkawang adalah kota dengan sebagian besar penduduknya adalah orang tionghoa tepatnya Hakka. Tak heran Singkawang adalah Kota dengan perayaan imlek paling meriah di Indonesia. Nah oleh sebab itu pula pimpinan memberikan pesiar terpimpin pada praja ke Kota Singkawang untuk  melihat kemeriahan imlek disana.

Pesiar terpimpin dibagi 2 kloter, bukan tanpa alasan tetapi memang transportasi yang belum memadai untuk menampung semua praja ke Singkawang. Sebelum ke Kota Singkawang kami istirahat sejenak di kampus IPDN yang dalam proses pembangunan di Purun, Mempawah. Kemudian berlanjut ke Kota Singkawang tepatnya di Taman Burung. Kami dilepas keluar mengunjungi Vihara Tua dan Masjid Raya Singkawang. Di Vihara Tua ini kami berfoto-foto karena memang instagrammable dan suasananya seperti di China. Setelah capek foto-foto sebagian dari kami mengunjungi pasar hong kong di dekat vihara ini. Disana ada pernak pernik imlek dan street food dan kami pun berbelanja disana. Saat waktu menunjukkan pukul 17.30 semua muslim sholat maghrib di Masjid Raya Singkawang. Kemudian pukul 18.30 bus meninggalkan Taman Burung dan menuju Kridasana.

Di kridasana terdapat pasar malam. Kami berbelanja dan mencoba jajanan di pasar malam tersebut. Disana juga terdapat panggung yang menampilkan berbagai macam pertunjukan seperti lagu mandarin, tari dayak, tari dari tiongkok dan lain-lain sebagai perayaan Cap Go Meh. Kalau kita menyebutkan ‘pasar malam’ mungkin kalian berpikir hanya ada permainan dan wahana itu-itu saja, akan tetapi disini berbeda. Dengan membayar Rp.20.000,00 kita dapat berfoto-foto di lampion-lampion dengan berbagai macam bentuk mulai naga, babi, pohon sakura dan lain-lain. Tempat ini memang cocok apalagi saat malam dengan lampu yang berkelap-kelip dan banyak ornament warna merah yang mendeskripsikan keuntungan (hoki) bagi orang tionghoa. Kalau beruntung, kalian pasti menemukan pertunjukan wushi atau yang kita kenal dengan barongsai dari salah satu perguruan baroongsai disana. Jika belum puas, kalian bisa bermain judi. Jangan berpikiran negatif dulu nih, judi disini maksudnya memainkan permainan seperti dart, lempar bola dan lainnya untuk mendapatkan boneka. Permainan ini banyak dimainkan oleh putra biar bonekanya dikasih ke adeknya wkwk. By: Cipit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *